Apa itu hama? Hama adalah semua herbivora yng dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia secara ekonomis. Akibat serangan hama, produktifitas tanaman menurun, baik mualitas maupun kuantitas, bahkan yang lebih parahnya terjadi kegagalan panen. Lalu apa itu serangga hama? Serangga hama adalah serangga yang merusak tanaman dalam atri presentasi yang lebih besar, sehingga secara materi dapat merugikan.
Bgaimana sih, penyebab terjadinya hama ?
Penyebab Terjadinya Hama
1.
Perubahan
lingkungan
Pada ekosistem
alami makanan serangga terbatas dan musuh alami
berperan aktif, sehingga populasi serangga rendah. Sebaliknya pada ekosistem
pertanian, terutama yang monokultur
makanan serangga relatif tidak terbatas sehingga populasi bertambah dengan cepat
tanpa dapat diimbangi oleh musuh
alaminya.
Sebagai contoh
Kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa
decei) yang
sebelumnya serangga tersebut hidup diberbagai tanaman famili Solanaceae liar di hutan-
hutan, populasi masih rendah. Begitu
hutan dibuka dan diubah menjadi kebun kentang maka populasinya meningkat dengan
cepat dan menjadi hama kentang
yang sangat merugikan.
Tanaman monokultur padi pada
areal yang sangat luas, akan mengubah
populasi berbagai hama bertambah dengan cepat. Katakanlah serangga hama itu
Wereng coklat, yang sebelumnya populasi
rendah, akan bertambah dengan cepat sehingga Wereng coklat merugikan tanaman
padi dan menjadi hama.
2.
Perpindahan
tempat dan pemasukan jenis tanaman baru (introduksi)
Serangga
hama dapat berpindah tempat secara aktif maupun pasif. Perpindahan tempat
secara aktif dilakukan oleh imago dengan cara terbang atau berjalan. Secara
pasif dilakukan oleh factor lain seperti; tertiup angin atau terbawa pada
tanaman yang dipindahkan oleh manusia. Di tempat yang baru populasi serangga
ini bertambah dengan cepat bila faktor lingkungan mendukungnya.
Sebagai
contoh Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla cubana) yang berasal dari
Amerika tengah, kemudian bermigrasi ke negara pasifik dan akhirnya sampai ke
Indonesia. Kutu loncat di Indonesia tumbuh cepat sekali sehingga ratusan hektar
tanaman lamtoro diserangnya. Musuh alami yang efektif untuk Kutu loncat lamtoro
yaitu Kumbang predator Curinus cocruleus belum tersedia di Indonesia,
sehingga harus didatangkan dari Hawai. Setelah pengembangan predator Curinus,
populasi kutu loncat lamtoro mulai dapat dikendalikan.
3.
Perubahan
pandangan manusia
Meningkatnya
pendidikan dan taraf hidup menyebabkan tuntutan terhadap bahan hasil pertanian
semakin baik sehingga banyak konsumen yang menginginkan buahbuahan atau
sayur-sayuran demikian pula dengan bunga, jangan ada cacat sedikitpun. Pada
konsumen tertentu buah yang mengalami sedikit cacat saja sudah ditolak. Dengan
penolakan ini berarti cacat tersebut menyebabkan hasil panen tidak laku
sehingga terjadi kerugian secara ekonomi.
Sebagai
contoh serangga hama yang disebut Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa
armigera Hbn.) masuk ke tongkol jagung melalui ujungnya dengan memotong
rambut-rambut, kemudian hidup dibagian dalam ujung tongkol dengan memakan
butiran butiran biji jagung. Bagian tongkol yang dirusaknya hanya ujungnya saja
sedangkan bagian tongkol masih tetap utuh. Bagi segolongan masyarakat tertentu
yang tidak dapat menerima hal ini, menganggap keberadaan H. armigera harus
dikendalikan dengan serius.
4.
Aplikasi
insektisida yang tidak bijaksana
Penggunaan
insektisida yang tidak bijaksana akan menyebabkan permasalahan hama semakin
kompleks, banyak musuh alami yang mati sehingga populasi serangga bertambah
tinggi disamping berkembangnya resistensi, resurgensi dan munculnya
hama sekunder.
Resistensi
terhadap insektisida bisa terjadi kalau digunakan jenis Insektisida yang lama
(bahan aktif sama atau kelompok senyawa yang sama) secara terus-menerus,
terutama dosis yang digunakan tidak tepat (dosis sublethal). Pada populasi
serangga di alam terjadi keragaman genetik antara individu - individunya. Ada
individu yang tahan terhadap suatu jenis insektisida dan ada yang tidak tahan.
Bila digunakan jenis insektisida yang sama secara terus menerus maka individu
yang ada dalam populasi tersebut akan terseleksi menjadi individu yang tahan.
Apabila serangga tersebut berkembangbiak dan masih digunakan insektisida yang
sama dengan dosis yang sama maka jumlah individu yang tahan akan semakin banyak
demikian seterusnya.
Resurgensi
adalah peningkatan populasi serangga yang terjadi. Setelah aplikasi
insektisida, populasi serangga yang mula-mula rendah kemudian meningkat lagi
dengan cepat melebihi tingkat populasi sebelum aplikasi insektisida. Penyebab
utama terjadinya resurgensi adalah terbunuhnya musuh alami serangga hama
tersebut pada
waktu aplikasi insektisida. Musuh alami umumnya lebih rentan terhadap
insektisida dibandingkan serangga hama. Apabila populasi hama tersebut
meningkat lagi pada
generasi berikutnya atau datang dari tempat lain maka tidak ada lagi musuh
alaminya yang mengendalikan serangga sehingga populasi serangga hama meningkat.
Munculnya
hama sekunder pada ekosistem pertanian karena insektisida yang ditujukkan untuk
mengendalikan hama utama, akan membunuh pula musuh alami hama utama dan musuh
alami hama sekunder. Dalam kondisi demikian komposisi hama pada beberapa
generasi berikutnya mungkin akan berubah. hama sekunder akan menjadi hama utama
dan hama utama menjadi hama sekunder.
5.
Terdapatnya
genotipe baru hasil seleksi atau pemuliaan tanaman è Terjadinya (hama) biotype baru,
yang mampu menyerang varietas-varietas baru yang tahan terhadap hama yang
bersangkutan.
6.
Adanya
sinkronisasi antara fenologi hama dan inangnya è kecocokan hama terhadap tempat hidupnya
7.
Pindahnya
hama poliphag/oligophag ke tanaman lain
8.
Pemupukan
tidak berimbang dapat mengakibatkan meningkatnya populasi hama/patogen è misalnya hanya nitrogen saja
atau fosfat.
Beberapa masalah gagal menanggulangi hama
1. Lemah dalam
identifikasi hama dan gejala serangan. Pada umumnya petani hanya mengenal jenis
hama yang sedang makan/merusak tanaman saja. Tidak semua fase pertumbuhan hama
makan/merusak tanaman. Contoh serangga hama dari Ordo Lepidoptera yang
berstatus sebagai hama tanaman hanya larvanya saja, sedangkan
ngengat/kupu-kupu, kepompong, kelompok telur tidak makan/merusak tanaman.
Pengetahuan perubahan bentuk serangga (metamorfosis) belum di ketahui
petani. Lemahnya identifikasi dan sistem pemantauan menyebabkan waktu dan
tindakan pengendalian tidak tepat. Di samping itu petani juga belum dapat
membedakan antara hama dan musuh alami (predator, parasitoid, dan patogen
serangga).
2. Tindakan
pengendalian yang terlambat. Akibat lemahnya identifikasi hama dan pengenalan
gejala kerusakan, menyebabkan tindakan pengendalian yang terlambat. Hasil survei
menunjukkan bahwa petani kedelai yang memiliki alat semprot sendiri hanya
berkisar 10-15% saja, sedang yang lain bergantung dari peminjaman atau sewa.
Keterbatasan pemilikan alat semprot ini sering menyebabkan keterlambatan petani
dalam melakukan tindakan pengendalian hama kedelai karena pada saat dibutuhkan
tindakan pengendalian, alat semprot tidak tersedia (Marwoto et al.
1991). Populasi hama yang tinggi dan larva/ nimfa sudah mencapai umur yang
lebih lanjut akan lebih tahan terhadap pestisida. Hasil penelitian Laba dan
Soekarna (1986) menunjukkan bahwa ulat grayak pada instar lima tahan terhadap
aplikasi insektisida
atau tingkat kematian ulat hanya 40-50%
3. Aplikasi
insektisida yang kurang tepat. Teknik aplikasi insektisida di tingkat petani
sering tidak tepat sasaran. Dosis pestisida yang digunakan pada umumnya terlalu
rendah. Hasil survei menyatakan bahwa petani di Jawa Timur menggunakan
insektisida dengan dosis dan konsentrasi yang lebih rendah dari seharusnya
(Marwoto et al., 1991). Konsentrasi anjuran penggunaan insektisida untuk
mengendalikan hama berkisar 2–4 ml/l air tergantung dari macam kandungan bahan
aktif pestisida. Kenyataannya banyak petani yang menggunakan konsentrasi kurang
dari 2 ml/l air, walaupun sebagian telah menggunakan konsentrasi yang benar.
Petani tidak memenuhi anjuran penggunaan konsentrasi pestisida dan volume
semprot air/hektar. Petani menggunakan volume semprot rata-rata antara 15–20
tangki per hektar atau 225–300 l/ha, sedang volume semprot anjuran berkisar
400–500 l/ha. Pemakaian dosis yang
rendah ini menyebabkan pengendalian hama tidak efektif dan masalah hama kedelai
tidak dapat terselesaikan.
4. Pelaksanaan
tindakan pengendalian hama secara bijaksana. Untuk melakukan tindakan
pengendalian hama secara bijaksana diperlukan pengetahuan tentang jenis dan
perilaku hama yang menyerang tanaman. Kebanyakan petani hanya mengenal jenis
hama pada saat stadia merusak tanaman, sedang “hama” pada stadia tidak aktif merusak
tanaman, belum banyak diketahui. Informasi bioekologi hama dan musuh alami pada
umumnya belum diketahui oleh petani. Informasi bioekologi hama sangat penting
untuk proses monitoring dan pengambilan keputusan dalam tindakan pengendalian
hama.
Pada intinya peranan serangga di alam
dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu peranan yang bersifat positif dan
negatif. beberapa peranan serangga yang bersifat positif adalah:
1.
Serangga
sebagai penyerbuk.
2.
Serangga
sebagai penghasil madu.
3.
Serangga
sebagai bahan penelitian.
4.
Serangga
sebagai penambah nilai estetika seperti taman-taman yang dihiasi dan dilengkapi
oleh berbagai macam jenis serangga di dalamnya.
5.
Serangga
sebagai sumber makanan.
6.
Serangga
sebagai bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan alam seperti sebagai
penghancur bahan organik di alam
7.
Serangga
sebagai penggerak roda ekonomi
Selain berperan positif, serangga juga
memiliki peranan yang bersifat negatif bagi kehidupan diantaranya adalah:
1.
Serangga
sebagai vektor penyakit
2.
Serangga
menimbulkan kerusakan pada beberapa bidang seperti bidang pertanian, perikanan,
kehutanan, gudang, dan lain-lain.
3.
Serangga
merusak konstruksi bangunan sehingga dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian
ekonomi secara signifikan.
No comments:
Post a Comment