Setiap spesies yang ada di bumi pasti memiliki habitat atau sebuah tempat untuk bertahan hidup. Habitat itu sendiri dapat dikatakan sebagai tempat tinggal makhluk hidup bagi tumbuhan atau hewan. Maka dari itu, habitat tidak hanya ditinggali oleh satu spesies saja, tetapi ada banyak sekali spesies yang tinggal dalam satu habitat. Banyaknya spesies yang tinggal dalam satu habitat karena untuk menunjang rantai makanan, sehingga setiap spesies dapat bertahan hidup dengan semestinya.
Berbicara
tentang hewan memang tidak akan pernah habis, selalu ada hal yang bisa
dibicarakan. Banyaknya spesies hewan dalam satu habitat sudah bukan hal asing
lagi, mulai dari hewan yang berada paling rendah di rantai makanan dan hewan
paling tinggi di rantai makanan. Oleh sebab itu, akan selalu ada hewan yang
mati di dalam suatu habitat. Dengan adanya hewan yang mati dan bertahan hidup,
maka pertumbuhan spesies hewan akan selalu mengalami perubahan.
Dinamika populasi dibagi menjadi dua kata, dinamika adalah suatu
pertumbuhan atau penurunan yang terjadi pada suatu makhluk hidup. Sedangkan
populasi adalah sekelompok spesies yang hidup dan berkembang serta tinggal di
suatu habitat dengan menggunakan sumber daya alam di habitat itu untuk bertahan
hidup.
Jadi, dinamika populasi adalah naik dan turunnya jumlah spesies yang
terjadi pada suatu habitat yang disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari
persaingan antar jenis, pemangsaan, hingga kondisi alam yang berubah.
Penyebab
dinamika populasi pada hewan
Dinamika populasi pada hewan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada
penyebab-penyebab yang membuat dinamika populasi terjadi. Di bawah ini akan
dijelaskan tentang penyebab-penyebab dinamika populasi pada hewan.
a. Interaksi
Predasi
Setiap
kehidupan yang dijalani oleh makhluk hidup pasti akan selalu ada yang namanya
interaksi. Salah satu interaksi yang terjadi pada suatu ekosistem hewan adalah
interaksi predasi. Interaksi predasi adalah interaksi yang terjadi pada hewan
predator atau pemangsa dengan prey atau hewan yang dimangsa. Adanya interaksi
ini menunjukkan bahwa hewan pemangsa berada di atas hewan yang dimangsa dalam
suatu rantai makanan yang terjadi pada satu ekosistem.
Pemangsa atau
predator adalah hewan yang akan memangsa buruannya untuk bertahan hidup. Dengan
kata lain, keberlangsungan hidup pemangsa sangat bergantung dengan kehadiran
mangsa tau buruannya. Jika mangsa sudah tidak ada lagi dalam suatu ekosistem,
maka pemangsa atau predator perlahan-lahan tidak akan mampu bertahan hidup dan
mengalami kepunahan.
Mangsa atau
prey adalah hewan yang dimangsa oleh pemangsa. Mangsa juga dapat diartikan sebagai
sumber bahan makanan untuk hewan pemangsa. Mangsa dapat bertahan hidup dengan
memakan makanan yang ada di habitatnya. Jika tidak ada pemangsa yang memakan
mangsa, maka secara berkala populasi mangsa akan terus bertambah.
b. Interaksi
Kompetisi
Jika interaksi predasi berkaitan dengan pemangsa dan mangsa, maka lain
halnya dengan interkasi kompetisis. Interaksi kompetisi adalah interaksi yang
terjadi pada hewan dengan spesies yang sama atau dengan spesies yang berbeda.
Pada interaksi ini, hewan akan saling beradu kekuatan satu sama lain, hingga
memunculkan pemenang. Pemenang akan mendapatkan atau memperoleh suatu hal yang
sudah diperebutkan dan hewan yang mengalami kekalahan akan terluka serta
perlahan-lahan akan mengalami kematian. Kematian hewan atas pertarungan tadi
menandakan bahwa terjadi pengurangan spesies walaupun tidak begitu signifikan.
Interaksi kompetisi dibagi menjadi dua yaitu interaksi kompetisi
intraspesifik dan interaksi kompetisi interspesifik. Kompetisi intraspesifik
adalah kompetisi yang terjadi pada individu-individu dengan spesies yang sama.
Sedangkan kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada
individu-individu dengan spesies yang berbeda.
c. Bencana
Alam
Terjadinya bencana alam tidak bisa diprediksi, mulai dari gempa bumi, gunung
meletus, tsunami, dan banjir. Semua bencana itu akan memengaruhi dinamika
populasi pada hewan. Hal ini disebabkan karena habitat hewan yang terkena
dampak bencana alam akan mengalami kerusakan, sehingga membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk pulih seperti semula.
Dalam proses pemulihan itulah ada hewan yang mampu bertahan hidup dan
ada juga yang harus mati karena tidak mampu bertahan hidup. Adanya kematian
pada spesies hewan itulah yang menunjukkan terjadinya dinamika populasi. Hewan
yang tidak mampu bertahan hidup bisa disebabkan karena tidak adanya sumber
makanan atau mati karena terkena dampak bencana alam.
d.
Ekosistem
Ekosistem itu
sendiri memiliki dua komponen pembentuk, yaitu biotik dan abiotik. Komponen
biotik adalah komponen-komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup,
seperti tumbuhan, hewan, dan manusia. Sedangkan komponen abiotik adalah
komponen-komponen yang terdiri dari sesuatu yang tidak hidup, seperti udara,
air, tanah, suhu, kelembapan, cahaya matahari, mineral, tingkat keasaman, dan
topografi.
Dengan adanya
ekosistem, maka setiap hewan bisa mendapatkan makanan, baik yang berasal dari
manusia atau dari alam itu sendiri. Ekosistem yang baik menunjukkan bahwa
hubungan hewan dengan manusia dan lingkungannya tidak bermasalah, sehingga
hewan mampu bertahan hidup dengan semestinya. Semakin banyak spesies hewan yang
mampu bertahan hidup, maka semakin kecil spesies hewan mengalami kepunahan.
e.
Habitat
Habitat bukan hanya sebagai tempat untuk bertahan hidup, tetapi habitat
juga merupakan tempat untuk para hewan berkembang biak. Hewan yang berkembang
biak, maka akan menghasilkan keturunan yang baik juga, sehingga populasi dari
spesies hewan tersebut terjaga. Terjaganya populasi hewan, maka rantai makanan
pada satu ekosistem tetap terjaga. Untuk menjaga keturunan, maka pejantan dan
betina harus menjaga dan melindungi anak-anaknya dari pemangsa hingga tumbuh
dewasa.
f. Aktivitas
Manusia
Rusaknya habitat hewan bukan hanya disebabkan karena bencana alam,
tetapi bisa juga disebabkan karena aktivitas manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa
zaman yang semakin berkembang malah membuat suatu habitat hewan menjadi rusak.
Rusaknya habitat ini bisa membuat hewan mencari makanan hingga lingkungan
manusia. Manusia yang merasa terganggu akan kedatangan hewan-hewan yang dapat
merugikan dirinya, maka berusaha untuk mengusir hewan-hewan itu.
Faktor yang menentukan tinggi rendahnya
populasi suatu organisme terdiri dari faktor internal, eksternal, dan makanan.
Faktor
internal serangga meliputi siklus hidup, sex ratio, dan keperidian. Siklus
hidup yaitu lamanya waktu perkembangan serangga mulai telur hingga serangga
tersebut meletakkan telur untuk pertama kali, Semakin pendek siklus hidup maka
perkembangan populasi serangga akan sernakin cepat. Sex ratio adalah perbandingan
serangga jantan dan betina yang mana serna kin ban yak betina yang dihasilkan
akan semakin cepat popufasi serangga tersebut berkernbang, dan keperidian yaitu
jumlah telur yang diproduksi oleh seekor betina, tentunya sernakin tinggi
tingkat keperidian seekor serangga akan sernakin cepat populasi serangga
tersebut berkembang.
Faktor
ekstemal terdiri dari lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik
meliputi curah hujan, suhultemperatur, kelembaban, dan fain-lain yang akan
membatasi atau mendorong populasi serangga untuk berkembang. Curah hujan yang
tinggi dapat rnempengaruhi perkembangan populasi serangga secara fangsung yaitu
dengan pengaruh fisiknya akibat turunnya hujan terutama untuk serangga-serangga
berukuran kedl dan mempengaruhi secara tidak langsung yaitu dengan mernbuat
kondisi yang baik bagi perkernbangan penyakit yang dapat menjadikan serangga
sakit hingga mengalarni kernatian, dfl. Sernenfara faktor lingkungan biotik
meliputi predator, parasitoid, patogen, kornpetitor, dan lain-lain. Kehadiran
predator dan parasitoid dalarn suatu pertanaman akan rnenekan perkembangan
populasi serangga hama tersebut.
Faktor
makanan merupakan faktor lainnya yang sangat menentukan perkembangan populasi
serangga harna. Faktor kualitas dan kuantitas makanan akan memberikan pengaruh
pada tinggi rendahnya perkernbangan populasi.
Silahkan tinggalkan komentar apabila ada pertanyaan. Terima Kasih
No comments:
Post a Comment