Thursday, 16 June 2022

PENYEBAB TERJADINYA HAMA

Apa itu hama? Hama adalah semua herbivora yng dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia secara ekonomis. Akibat serangan hama, produktifitas tanaman menurun, baik mualitas maupun kuantitas, bahkan yang lebih parahnya terjadi kegagalan panen. Lalu apa itu serangga hama? Serangga hama adalah serangga yang merusak tanaman dalam atri presentasi yang lebih besar, sehingga secara materi dapat merugikan.

Bgaimana sih, penyebab terjadinya hama ?

 

Penyebab Terjadinya Hama

1.      Perubahan lingkungan

*      Pada ekosistem alami makanan serangga terbatas dan musuh alami berperan aktif, sehingga populasi serangga rendah. Sebaliknya pada ekosistem pertanian, terutama yang monokultur makanan serangga relatif tidak terbatas sehingga populasi bertambah dengan cepat tanpa dapat diimbangi oleh musuh alaminya.

*      Sebagai contoh Kumbang kentang Colorado (Leptinotarsa decei) yang sebelumnya serangga tersebut hidup diberbagai tanaman famili Solanaceae liar di hutan- hutan, populasi masih rendah. Begitu hutan dibuka dan diubah menjadi kebun kentang maka populasinya meningkat dengan cepat dan menjadi hama kentang yang sangat merugikan.

*      Tanaman monokultur padi pada areal yang sangat luas, akan mengubah populasi berbagai hama bertambah dengan cepat. Katakanlah serangga hama itu Wereng coklat, yang sebelumnya populasi rendah, akan bertambah dengan cepat sehingga Wereng coklat merugikan tanaman padi dan menjadi hama.

2.      Perpindahan tempat dan pemasukan jenis tanaman baru (introduksi)

*      Serangga hama dapat berpindah tempat secara aktif maupun pasif. Perpindahan tempat secara aktif dilakukan oleh imago dengan cara terbang atau berjalan. Secara pasif dilakukan oleh factor lain seperti; tertiup angin atau terbawa pada
tanaman yang dipindahkan oleh manusia. Di tempat yang baru populasi serangga ini bertambah dengan cepat bila faktor lingkungan mendukungnya.

*      Sebagai contoh Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla cubana) yang berasal dari Amerika tengah, kemudian bermigrasi ke negara pasifik dan akhirnya sampai ke Indonesia. Kutu loncat di Indonesia tumbuh cepat sekali sehingga ratusan hektar tanaman lamtoro diserangnya. Musuh alami yang efektif untuk Kutu loncat lamtoro yaitu Kumbang predator Curinus cocruleus belum tersedia di Indonesia, sehingga harus didatangkan dari Hawai. Setelah pengembangan predator Curinus, populasi kutu loncat lamtoro mulai dapat dikendalikan.

3.      Perubahan pandangan manusia

*      Meningkatnya pendidikan dan taraf hidup menyebabkan tuntutan terhadap bahan hasil pertanian semakin baik sehingga banyak konsumen yang menginginkan buahbuahan atau sayur-sayuran demikian pula dengan bunga, jangan ada cacat sedikitpun. Pada konsumen tertentu buah yang mengalami sedikit cacat saja sudah ditolak. Dengan penolakan ini berarti cacat tersebut menyebabkan hasil panen tidak laku sehingga terjadi kerugian secara ekonomi.

*      Sebagai contoh serangga hama yang disebut Penggerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera Hbn.) masuk ke tongkol jagung melalui ujungnya dengan memotong rambut-rambut, kemudian hidup dibagian dalam ujung tongkol dengan memakan butiran butiran biji jagung. Bagian tongkol yang dirusaknya hanya ujungnya saja sedangkan bagian tongkol masih tetap utuh. Bagi segolongan masyarakat tertentu yang tidak dapat menerima hal ini, menganggap keberadaan H. armigera harus dikendalikan dengan serius.

4.      Aplikasi insektisida yang tidak bijaksana

*      Penggunaan insektisida yang tidak bijaksana akan menyebabkan permasalahan hama semakin kompleks, banyak musuh alami yang mati sehingga populasi serangga bertambah tinggi disamping berkembangnya resistensi, resurgensi dan munculnya
hama sekunder.

*      Resistensi terhadap insektisida bisa terjadi kalau digunakan jenis Insektisida yang lama (bahan aktif sama atau kelompok senyawa yang sama) secara terus-menerus, terutama dosis yang digunakan tidak tepat (dosis sublethal). Pada populasi serangga di alam terjadi keragaman genetik antara individu - individunya. Ada individu yang tahan terhadap suatu jenis insektisida dan ada yang tidak tahan. Bila digunakan jenis insektisida yang sama secara terus menerus maka individu yang ada dalam populasi tersebut akan terseleksi menjadi individu yang tahan. Apabila serangga tersebut berkembangbiak dan masih digunakan insektisida yang sama dengan dosis yang sama maka jumlah individu yang tahan akan semakin banyak demikian seterusnya.

*      Resurgensi adalah peningkatan populasi serangga yang terjadi. Setelah aplikasi insektisida, populasi serangga yang mula-mula rendah kemudian meningkat lagi
dengan cepat melebihi tingkat populasi sebelum aplikasi insektisida. Penyebab utama terjadinya resurgensi adalah terbunuhnya musuh alami serangga hama tersebut pada
waktu aplikasi insektisida. Musuh alami umumnya lebih rentan terhadap insektisida dibandingkan serangga hama. Apabila populasi hama tersebut meningkat lagi pada
generasi berikutnya atau datang dari tempat lain maka tidak ada lagi musuh alaminya yang mengendalikan serangga sehingga populasi serangga hama meningkat.

*      Munculnya hama sekunder pada ekosistem pertanian karena insektisida yang ditujukkan untuk mengendalikan hama utama, akan membunuh pula musuh alami hama utama dan musuh alami hama sekunder. Dalam kondisi demikian komposisi hama pada beberapa generasi berikutnya mungkin akan berubah. hama sekunder akan menjadi hama utama dan hama utama menjadi hama sekunder.

5.      Terdapatnya genotipe baru hasil seleksi atau pemuliaan tanaman è Terjadinya (hama) biotype baru, yang mampu menyerang varietas-varietas baru yang tahan terhadap hama yang bersangkutan.

6.      Adanya sinkronisasi antara fenologi hama dan inangnya è kecocokan hama terhadap tempat hidupnya

7.      Pindahnya hama poliphag/oligophag ke tanaman lain

8.      Pemupukan tidak berimbang dapat mengakibatkan meningkatnya populasi hama/patogen è misalnya hanya nitrogen saja atau fosfat.

 

Beberapa masalah gagal menanggulangi hama

1.    Lemah dalam identifikasi hama dan gejala serangan. Pada umumnya petani hanya mengenal jenis hama yang sedang makan/merusak tanaman saja. Tidak semua fase pertumbuhan hama makan/merusak tanaman. Contoh serangga hama dari Ordo Lepidoptera yang berstatus sebagai hama tanaman hanya larvanya saja, sedangkan ngengat/kupu-kupu, kepompong, kelompok telur tidak makan/merusak tanaman. Pengetahuan perubahan bentuk serangga (metamorfosis) belum di ketahui petani. Lemahnya identifikasi dan sistem pemantauan menyebabkan waktu dan tindakan pengendalian tidak tepat. Di samping itu petani juga belum dapat membedakan antara hama dan musuh alami (predator, parasitoid, dan patogen serangga).

2.    Tindakan pengendalian yang terlambat. Akibat lemahnya identifikasi hama dan pengenalan gejala kerusakan, menyebabkan tindakan pengendalian yang terlambat. Hasil survei menunjukkan bahwa petani kedelai yang memiliki alat semprot sendiri hanya berkisar 10-15% saja, sedang yang lain bergantung dari peminjaman atau sewa. Keterbatasan pemilikan alat semprot ini sering menyebabkan keterlambatan petani dalam melakukan tindakan pengendalian hama kedelai karena pada saat dibutuhkan tindakan pengendalian, alat semprot tidak tersedia (Marwoto et al. 1991). Populasi hama yang tinggi dan larva/ nimfa sudah mencapai umur yang lebih lanjut akan lebih tahan terhadap pestisida. Hasil penelitian Laba dan Soekarna (1986) menunjukkan bahwa ulat grayak pada instar lima tahan terhadap aplikasi insektisida
atau tingkat kematian ulat hanya 40-50%

3.    Aplikasi insektisida yang kurang tepat. Teknik aplikasi insektisida di tingkat petani sering tidak tepat sasaran. Dosis pestisida yang digunakan pada umumnya terlalu rendah. Hasil survei menyatakan bahwa petani di Jawa Timur menggunakan insektisida dengan dosis dan konsentrasi yang lebih rendah dari seharusnya (Marwoto et al., 1991). Konsentrasi anjuran penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama berkisar 2–4 ml/l air tergantung dari macam kandungan bahan aktif pestisida. Kenyataannya banyak petani yang menggunakan konsentrasi kurang dari 2 ml/l air, walaupun sebagian telah menggunakan konsentrasi yang benar. Petani tidak memenuhi anjuran penggunaan konsentrasi pestisida dan volume semprot air/hektar. Petani menggunakan volume semprot rata-rata antara 15–20 tangki per hektar atau 225–300 l/ha, sedang volume semprot anjuran berkisar 400–500 l/ha. Pemakaian dosis yang
rendah ini menyebabkan pengendalian hama tidak efektif dan masalah hama kedelai tidak dapat terselesaikan.

4.    Pelaksanaan tindakan pengendalian hama secara bijaksana. Untuk melakukan tindakan pengendalian hama secara bijaksana diperlukan pengetahuan tentang jenis dan perilaku hama yang menyerang tanaman. Kebanyakan petani hanya mengenal jenis hama pada saat stadia merusak tanaman, sedang “hama” pada stadia tidak aktif merusak tanaman, belum banyak diketahui. Informasi bioekologi hama dan musuh alami pada umumnya belum diketahui oleh petani. Informasi bioekologi hama sangat penting untuk proses monitoring dan pengambilan keputusan dalam tindakan pengendalian hama.

 

Pada intinya peranan serangga di alam dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu peranan yang bersifat positif dan negatif. beberapa peranan serangga yang bersifat positif adalah:

1.      Serangga sebagai penyerbuk.

2.      Serangga sebagai penghasil madu.

3.      Serangga sebagai bahan penelitian.

4.      Serangga sebagai penambah nilai estetika seperti taman-taman yang dihiasi dan dilengkapi oleh berbagai macam jenis serangga di dalamnya.

5.      Serangga sebagai sumber makanan.

6.      Serangga sebagai bagian dari ekosistem yang menjaga keseimbangan alam seperti sebagai penghancur bahan organik di alam

7.      Serangga sebagai penggerak roda ekonomi

 

Selain berperan positif, serangga juga memiliki peranan yang bersifat negatif bagi kehidupan diantaranya adalah:

1.      Serangga sebagai vektor penyakit

2.      Serangga menimbulkan kerusakan pada beberapa bidang seperti bidang pertanian, perikanan, kehutanan, gudang, dan lain-lain.

3.      Serangga merusak konstruksi bangunan sehingga dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian ekonomi secara signifikan. 

DINAMIKA POPULASI SERANGGA

Setiap spesies yang ada di bumi pasti memiliki habitat atau sebuah tempat untuk bertahan hidup. Habitat itu sendiri dapat dikatakan sebagai tempat tinggal makhluk hidup bagi tumbuhan atau hewan. Maka dari itu, habitat tidak hanya ditinggali oleh satu spesies saja, tetapi ada banyak sekali spesies yang tinggal dalam satu habitat. Banyaknya spesies yang tinggal dalam satu habitat karena untuk menunjang rantai makanan, sehingga setiap spesies dapat bertahan hidup dengan semestinya.

Berbicara tentang hewan memang tidak akan pernah habis, selalu ada hal yang bisa dibicarakan. Banyaknya spesies hewan dalam satu habitat sudah bukan hal asing lagi, mulai dari hewan yang berada paling rendah di rantai makanan dan hewan paling tinggi di rantai makanan. Oleh sebab itu, akan selalu ada hewan yang mati di dalam suatu habitat. Dengan adanya hewan yang mati dan bertahan hidup, maka pertumbuhan spesies hewan akan selalu mengalami perubahan.

Dinamika populasi dibagi menjadi dua kata, dinamika adalah suatu pertumbuhan atau penurunan yang terjadi pada suatu makhluk hidup. Sedangkan populasi adalah sekelompok spesies yang hidup dan berkembang serta tinggal di suatu habitat dengan menggunakan sumber daya alam di habitat itu untuk bertahan hidup.

Jadi, dinamika populasi adalah naik dan turunnya jumlah spesies yang terjadi pada suatu habitat yang disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari persaingan antar jenis, pemangsaan, hingga kondisi alam yang berubah.

 

Penyebab dinamika populasi pada hewan

Dinamika populasi pada hewan tidak terjadi begitu saja, tetapi ada penyebab-penyebab yang membuat dinamika populasi terjadi. Di bawah ini akan dijelaskan tentang penyebab-penyebab dinamika populasi pada hewan.

 

a.       Interaksi Predasi

Setiap kehidupan yang dijalani oleh makhluk hidup pasti akan selalu ada yang namanya interaksi. Salah satu interaksi yang terjadi pada suatu ekosistem hewan adalah interaksi predasi. Interaksi predasi adalah interaksi yang terjadi pada hewan predator atau pemangsa dengan prey atau hewan yang dimangsa. Adanya interaksi ini menunjukkan bahwa hewan pemangsa berada di atas hewan yang dimangsa dalam suatu rantai makanan yang terjadi pada satu ekosistem.

Pemangsa atau predator adalah hewan yang akan memangsa buruannya untuk bertahan hidup. Dengan kata lain, keberlangsungan hidup pemangsa sangat bergantung dengan kehadiran mangsa tau buruannya. Jika mangsa sudah tidak ada lagi dalam suatu ekosistem, maka pemangsa atau predator perlahan-lahan tidak akan mampu bertahan hidup dan mengalami kepunahan.

Mangsa atau prey adalah hewan yang dimangsa oleh pemangsa. Mangsa juga dapat diartikan sebagai sumber bahan makanan untuk hewan pemangsa. Mangsa dapat bertahan hidup dengan memakan makanan yang ada di habitatnya. Jika tidak ada pemangsa yang memakan mangsa, maka secara berkala populasi mangsa akan terus bertambah.

 

b.      Interaksi Kompetisi

Jika interaksi predasi berkaitan dengan pemangsa dan mangsa, maka lain halnya dengan interkasi kompetisis. Interaksi kompetisi adalah interaksi yang terjadi pada hewan dengan spesies yang sama atau dengan spesies yang berbeda. Pada interaksi ini, hewan akan saling beradu kekuatan satu sama lain, hingga memunculkan pemenang. Pemenang akan mendapatkan atau memperoleh suatu hal yang sudah diperebutkan dan hewan yang mengalami kekalahan akan terluka serta perlahan-lahan akan mengalami kematian. Kematian hewan atas pertarungan tadi menandakan bahwa terjadi pengurangan spesies walaupun tidak begitu signifikan.

Interaksi kompetisi dibagi menjadi dua yaitu interaksi kompetisi intraspesifik dan interaksi kompetisi interspesifik. Kompetisi intraspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada individu-individu dengan spesies yang sama. Sedangkan kompetisi interspesifik adalah kompetisi yang terjadi pada individu-individu dengan spesies yang berbeda.

 

c.       Bencana Alam

Terjadinya bencana alam tidak bisa diprediksi, mulai dari gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan banjir. Semua bencana itu akan memengaruhi dinamika populasi pada hewan. Hal ini disebabkan karena habitat hewan yang terkena dampak bencana alam akan mengalami kerusakan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih seperti semula.

Dalam proses pemulihan itulah ada hewan yang mampu bertahan hidup dan ada juga yang harus mati karena tidak mampu bertahan hidup. Adanya kematian pada spesies hewan itulah yang menunjukkan terjadinya dinamika populasi. Hewan yang tidak mampu bertahan hidup bisa disebabkan karena tidak adanya sumber makanan atau mati karena terkena dampak bencana alam.

 

d.      Ekosistem

Ekosistem itu sendiri memiliki dua komponen pembentuk, yaitu biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah komponen-komponen ekosistem yang terdiri dari makhluk hidup, seperti tumbuhan, hewan, dan manusia. Sedangkan komponen abiotik adalah komponen-komponen yang terdiri dari sesuatu yang tidak hidup, seperti udara, air, tanah, suhu, kelembapan, cahaya matahari, mineral, tingkat keasaman, dan topografi.

Dengan adanya ekosistem, maka setiap hewan bisa mendapatkan makanan, baik yang berasal dari manusia atau dari alam itu sendiri. Ekosistem yang baik menunjukkan bahwa hubungan hewan dengan manusia dan lingkungannya tidak bermasalah, sehingga hewan mampu bertahan hidup dengan semestinya. Semakin banyak spesies hewan yang mampu bertahan hidup, maka semakin kecil spesies hewan mengalami kepunahan.

 

e.       Habitat

Habitat bukan hanya sebagai tempat untuk bertahan hidup, tetapi habitat juga merupakan tempat untuk para hewan berkembang biak. Hewan yang berkembang biak, maka akan menghasilkan keturunan yang baik juga, sehingga populasi dari spesies hewan tersebut terjaga. Terjaganya populasi hewan, maka rantai makanan pada satu ekosistem tetap terjaga. Untuk menjaga keturunan, maka pejantan dan betina harus menjaga dan melindungi anak-anaknya dari pemangsa hingga tumbuh dewasa.

 

f.     Aktivitas Manusia

Rusaknya habitat hewan bukan hanya disebabkan karena bencana alam, tetapi bisa juga disebabkan karena aktivitas manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa zaman yang semakin berkembang malah membuat suatu habitat hewan menjadi rusak. Rusaknya habitat ini bisa membuat hewan mencari makanan hingga lingkungan manusia. Manusia yang merasa terganggu akan kedatangan hewan-hewan yang dapat merugikan dirinya, maka berusaha untuk mengusir hewan-hewan itu.

 

 

Faktor yang menentukan tinggi rendahnya populasi suatu organisme terdiri dari faktor internal, eksternal, dan makanan.

*      Faktor internal serangga meliputi siklus hidup, sex ratio, dan keperidian. Siklus hidup yaitu lamanya waktu perkembangan serangga mulai telur hingga serangga tersebut meletakkan telur untuk pertama kali, Semakin pendek siklus hidup maka perkembangan populasi serangga akan sernakin cepat. Sex ratio adalah perbandingan serangga jantan dan betina yang mana serna kin ban yak betina yang dihasilkan akan semakin cepat popufasi serangga tersebut berkernbang, dan keperidian yaitu jumlah telur yang diproduksi oleh seekor betina, tentunya sernakin tinggi tingkat keperidian seekor serangga akan sernakin cepat populasi serangga tersebut berkembang.

*      Faktor ekstemal terdiri dari lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik meliputi curah hujan, suhultemperatur, kelembaban, dan fain-lain yang akan membatasi atau mendorong populasi serangga untuk berkembang. Curah hujan yang tinggi dapat rnempengaruhi perkembangan populasi serangga secara fangsung yaitu dengan pengaruh fisiknya akibat turunnya hujan terutama untuk serangga-serangga berukuran kedl dan mempengaruhi secara tidak langsung yaitu dengan mernbuat kondisi yang baik bagi perkernbangan penyakit yang dapat menjadikan serangga sakit hingga mengalarni kernatian, dfl. Sernenfara faktor lingkungan biotik meliputi predator, parasitoid, patogen, kornpetitor, dan lain-lain. Kehadiran predator dan parasitoid dalarn suatu pertanaman akan rnenekan perkembangan populasi serangga hama tersebut.

*      Faktor makanan merupakan faktor lainnya yang sangat menentukan perkembangan populasi serangga harna. Faktor kualitas dan kuantitas makanan akan memberikan pengaruh pada tinggi rendahnya perkernbangan populasi.


Silahkan tinggalkan komentar apabila ada pertanyaan. Terima Kasih

KLASIFIKASI SERANGGA

 Klasifikasi Serangga.

Apa arti klasifikasi? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan pengertian klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan.

klasifikasi adalah menggambarkan sesuatu yang dikelompokkan berdasarkan kelas atau kasta. Pengertian klasifikasi adalah kata serapan dari bahasa Belanda ‘Classificatie’ lalu kata ‘Classificatie’ tersebut berasal dari bahasa Prancis, yakni ‘Classification. Jadi klasifikasi serangga adalah pembagian kelompok serangga berdasarkan ciri-cii dan bentuk morfologi.

Serangga diklasifikasikan menjadi dua subkelas besar yaitu Apterygota dan Pterygota. Pembagian subkelas tersebut didasarkan oleh keberadaan sayap serangga.

Apterygota

Apterygota yaitu kelompok serangga yang tidak mempunyai sayap, sedikit atau tidak mengalami proses metamorphosis, mempunyai appendage pada bagian ventral abdomen, serta pada umumnya mempunyai ukuran kurang dari 5mm. Appendage sendiri yaitu bagian tubuh yang menonjol, bisa digerakkan dan berfungsi sebagai alat gerak, untuk makan, alat indra. Dan apterygota sendiri hidupnya di tempat lembab dimana mengandung humus atau sampah organic, dan ada juga yang memakan buku atau pakaian.

Nama Apterygota berasal dari bahasa Yunani, dan berarti "tanpa sayap". Subkelas ini berisi heksapoda primitif yang tidak terbang, dan tidak bersayap sepanjang sejarah evolusinya. 

Hexapoda primitif tanpa sayap mengalami sedikit atau tidak ada metamorfosis. Sebaliknya, bentuk larva adalah versi yang lebih kecil dari induk dewasanya. Apterygotes meranggas sepanjang hidup mereka, tidak hanya selama fase pertumbuhan. Beberapa apterygote, seperti gegat, dapat berganti kulit puluhan kali dan hidup beberapa tahun. 

Tiga dari lima ordo yang diklasifikasikan sebagai Apterygota tidak lagi dianggap serangga sejati. Dipluran, proturan, dan springtail sekarang disebut sebagai tatanan hexapoda yang terkenal. Istilah entognath ( ento yang berarti di dalam, dan gnath yang berarti rahang) mengacu pada mulut internal mereka.

Subclass Apterygota:

Diplura - diplurans ( Entognatha )

Protura - proturans ( Entognatha )

Collembola - springtails ( Entognatha )

Thysanura - gegat dan firebrats ( Insecta )

Microcoryphia - bristletails melompat ( Insecta )

 

Entognatha: Heksapoda yang bukan serangga

Pada umumnya, mahasiswa akan menyatakan bahwa heksapoda itu adalah artropoda berkaki enam atau serangga, atau heksapoda sama dengan serangga. Jika dinyatakan bahwa serangga adalah heksapoda, maka hal ini benar. Namun, jika dibalik, yaitu bahwa heksapoda adalah serangga, maka pernyataan tersebut menjadi keliru.

Di dalam filum Artropoda, Entognatha dimasukkan ke dalam klas tersendiri, sesuai namanya. Dan bersama dengan Klas Insecta (serangga), Entognatha adalah anggota subfilum Heksapoda (artropoda berkaki enam).

Klas Entognatha mencakup tiga ordo, yaitu Protura, Diplura, dan Collembola (ekor pegas) yang kebanyakan hidup di dalam tanah, dan berperan sebagai pemakan bahan organik (detritivora). Oleh karena itu, keberadaan mereka di lingkungan sangat bermanfaat. Para ahli juga sering menggunakan keragaman kelompok heksapoda ini untuk menentukan kualitas kandungan bahan organik tanah, maupun sebaliknya, kandungan bahan cemaran. Ciri utama dari Entognatha adalah perangkat alat mulut yang tidak tampak jelas dari luar  jadi terkesan tertarik ke dalam atau tersembunyi di dalam rongga kepalanya. Entognatha sendiri berasal dari kata ento– yang berarti di dalam, dan –gnatha yang berarti rahang. Ciri lain adalah bahwa semua heksapoda entognatha tidak bersayap (tuna sayap).

Jadi kesimpulannya pada Subclass Apterygota hanya terdapat 3 ordo

Zygentoma (Thysanura)

Archaeognatha atau Microcoryphia

Monura (mengalami kepunahan)

Pterygota

Pterygota adalah subclass dari serangga yang termasuk serangga bersayap. Pterygota adalah insecta yang mempunyai sayap dan mengalami metamorfosis, baik itu metamorfosis sempurna maupun metamorfosis tidak sempurna.

Infraclass Paleoptera

Order Ephemeroptera (mayflies)

Order Odonata (dragonflies, damselflies)

Infraclass Neoptera

Superorder Exopterygota (Hemimetabola)

Order Plecoptera (stoneflies)

Order Blattodea (cockroaches, termites)

Order Notoptera (grylloblattids, mantophasmids, gladiator bugs, African rock crawlers, or heelwalkers)

Order Phasmida (Phasmatoptera; stick and leaf insects)

Order Orthoptera (grasshoppers, crickets)

Order Dermaptera (earwigs)

Order Embioptera (webspinners)

Order Psocoptera (booklice or psocids)

Order Zoraptera

Order Phthiraptera (lice)

Order Thysanoptera (thrips)

Order Heteroptera or Hemiptera (true bugs)

Order Homoptera (cicadas, hoppers, whiteflies, aphids, scale insects)

Superorder Endopterygota (Holometabola)

Order Megaloptera (alderflies, dobsonflies)

Order Raphidiodea (snakeflies)

Order Neuroptera (lacewings)

Order Mecoptera (scorpionflies)

Order Trichoptera (caddisflies)

Order Lepidoptera (butterflies, moths)

Order Coleoptera (beetles)

Order Hymenoptera (ants, bees, wasps, sawflies)

Order Diptera (true flies)

Order Siphonaptera (fleas)

 

Semoga bermanfaat buat yang baca. silahkan komentarnya apabila ada pertanyaan dari adik2 semuanya..

PENYEBAB TERJADINYA HAMA

Apa itu hama? Hama adalah semua herbivora yng dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia secara ekonomis. Akibat serangan hama, prod...